Pada hari minggu kemarin saya membaca tulisan Bonari Nabonenar yang dimuat di Jawa Pos tentang pelaksaan hari berbahasa jawa di sekolah di seluruh wilayah Kota Surabaya yang digagas oleh Dispendik Kota Surabaya. Tujuan utamanya adalah untuk melestarikan bahasa jawa yang semakin tergerus oleh jaman dan perkembangan yang juga diharapkan bisa menumbuhkan sifat santun pada generasi muda karena dengan berbahasa jawa orang muda diajarkan untuk menghormati yang lebih tua dengan menggunakan boso jowo kromo seperti misalnya murid terhadap gurunya. Baca entri selengkapnya »
Gresik Semakin Hijau
Gresik Kotaku yang belum hijau31 tahun lamanya aku hidup di kota gresik, namun sayang selama ini kota ku yang banyak di isi pabrik-pabrik besar yang kiranya dapat membantu kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Gresik’ ternyata hanya polusi yang sangat buruk yang justru di dapat, kotaku yang dulunya asri sekarang justru gersang karena polusi, daerah-daerah lain sudah mulai menghijaukan kotannya’ malah kotaku sendiri yang gersang kering kerontang buat Pemda Gresik mana nyalimu untuk menghijaukan kota Gresik jangan melempeng terus. Baca entri selengkapnya »
mosok Genius?
huakakaka, melok2 cak rofi’i ngetes blog, kok iso yo reading levelnya Genius?
ayo ngeblog terus cak…
Bukannya saya ndak setuju dengan genk blogger yang kata cak Rofi’i mirip-mirip dengan genk motor, cuman saya sendiri belum pernah tau apa acara atau kegiatan dari genk blogger selain dari yang saya baca di blog-blog bahwa ada kopdar, kalau cuman kopdar kan jaman brik-brikan dulu juga kopdar terus fans radio juga kopdar.
Menurut saya seh gak usah buru-buru pake bikin komunitas resmi biar gak kaku (jangan-jangan kalo udah pake blog resmi malah lebih kaku dan lebih vakum dari yang plat merah karena kehabisan amunisi) belum lagi kalo nanti anggotanya gak satu ide mau dikemanakan komunitas resmi ini, seperti yang dibilang cak Peyek di blognya bahwa “blogger itu dibuat, bukan di lahirkan” begitu pula komunitas genk blogger ngGresik ini gak akan bisa lahir begitu saja kalau gak dibuat tapi menurut saya biarkan saja mengalir dan menemukan bentuknya sendiri seiring perjalanan waktu.
Bukankah dengan kita saling mengenal, saling tukar informasi dan tukar apa aja termasuk tukar tambah opo ae… kita ini sudah menjadi satu komunitas dengan sendirinya? mau kopdar tinggal kopdar apalagi dengan banner blogger ngGresik buatan cak Rofi’i moso ono seng gak percoyo nek kita ini komunitas wong ngGresik.
Tapi kalau menurut dulur-dulur yang lebih paham apa dan gimana komunitas blogger sehingga merasa perlu membuat komunitas resmi karena mungkin beranggapan dengan membentuk membentuk komunitas dan blog resmi bisa berbuat nyata di daratan, saya dukung 100% (cek iso bebas dari askimet hehehe). Tapi seperti biasanya inget nasehat orang-orang tua harus dipikir mateng disik jangan hangat-hangat tahi ayam. Kira-kira bentuknya seperti apa ya? Opo yo ono AD/ART barang koyo LSM dan ormas-ormas lain. Bukan maksud hati menjadikan semangat dulur-dulur yang siap berkembang jadi layu, saya ingin dulur-dulur gak sekedar asal bikin karena latah tapi arah dan tujuan gak jelas dan hanya mampu bersinar seperti lilin yang memang menerangi tapi pasti akan mati begitu sampai pangkal. Maju terus Bloggers ngGresik!!!
Datang Lagi…
Setelah absen hampir selama 14 tahun, luapan air dari Bengawan Solo kembali menyapa warga ngGresik di kecamatan Dukun, Bungah, Manyar dan Sidayu walau sampai tulisan ini dibuat ketinggian air banjir masih belum separah di tahun 1994 yang lalu.
Ketidaksayangan manusia Indonesia pada alam sepertinya sudah menuai hasil yang bisa dilihat dengan jelas dan hasilnya bisa dirasakan secara nyata para korban bencana alam.
Nek biyen sek cilik kok seneng banget tiap ada banjir sekolah jadi prei, iso kecek njaring opo njolo iwak mergo tambak-tambak jebol kabeh, mugo-mugo cepet entek banyune biar gak semakin susah wong nDukun lan wong-wong liyo seng kebanjiran.

ini foto dari google earth sebelum banjir, kalau sekarang mungkin cuman keliatan genteng ama ujung pohon, tambak lan sawah wes kelem jadi siji
Bahasa Walikan
Sejak kecil (sekitar tahun 1988-an) saya sudah terbiasa mendengar dan melihat para remaja di kampung saya bercakap-cakap dengan bahasa walikan seperti “eyip odis ta?” (piye sido ta?) aku yang waktu itu masih MI/SD pada mulanya kurang bisa saya mengerti namun seiring pertambahan umur dan pergaulan akhirnya saya bisa memahami dan sekaligus menjadikan gaya bahasa walikan tersebut jika berkomunikasi dengan teman sekolah dan teman main, apalagi bila berada di luar kampung rasanya kok keren tampil beda dengan bahasa yang hanya dipahami oleh kalangan sendiri.
Bahasa walikan khas nDukun yang kami gunakan memang tak seterkenal bahasa walikan Kera Ngalam yang menjadi identitas Kota Malang dan digunakan oleh hampir semua orang Malang mulai dari remaja sampai orang tua karena bahasa walikan di Malang sudah menjadi kebanggan dan identitas Malang, bahasa walikan di Malang memang mempunyai sejarah panjang, bahasa walikan di malang menjadi sedemikian mengakar sebab sudah digunakan oleh para pejuang gerilyawan kemerdekaan berkomunikasi antar pejuang untuk mengelabui dan menyulitkan tentara kolonial sekaligus berguna mengidentifikasi kawan dan lawan. Dan terus berkembang sampai saat ini
Meskipun lingkupnya kecil bahasa walikan khas nDukun akhirnya menyebar dan juga digunakan oleh remaja-remaja di sekitar nDukun saat ini, nah gara-gara menggunakan bahasa walikan ini ada suatu kejadian lucu saat saya bercakap-cakap dengan anak sekolah dari luar nDukun menggunakan bahasa walikan, mereka sempat tertegun mendengar omongan saya yang dianggap tidak pantas saat saya menyahuti obrolan mereka yang hendak berpamitan dengan kata “Oyi…” mereka sempat kebingungan mendengar jawaban saya. Melihat wajah bingung mereka saya teringat bahwa kata “Oyi” yang sering di gunakan di kota-kota lain yang mempunyai makna “Iyo” kalau untuk di nDukun kata “Oyi” menjadi suku kata baru yang mempunyai arti penis atau peli yang biasanya di nDukun disebut ilep. Tidak tahu apa yang menyebabkan kata tersebut mulai berubah artinya dan siapa yang mempopulerkannya sejak tahun 1990-an sehingga sekarang ini sudah jamak dan umum jika menyebut oyi konotasinya ke-anggota tubuh kebanggan lelaki itu, dan jika menggunakan akhiran “an” orang juga mafhum bahwa yang dimaksud orang yang mengucapkan kata “oyian” adalah bersenggama atau bersetubuh.
Lain Padang Lain Ilalang, Lain Lubuk Lain Ikannya bukan begitu??
Sudah Ada “Gimana?”
Tulisan cak Rofi’i di blog-nya tentang damar kurung dari ngGresik yang dilukis mbah Masmundari (baca di sini) sepertinya bisa menjadi embrio lahirnya komunitas ngGresik yang bangga dengan kotanya yang peduli dengan budaya ngGresik yang terkesan gak ngetop entah karena apa begitu saja hilang tanpa ada yang peduli. Mugo-mugo iso terlaksana biarpun gak dalam waktu dekat ini namanya juga wong jowo “alon-alon asal kelakon” yang kalo diterjemahkan ke bahasa Indo jadi “biar cepat asal selamat” (soale jelas suwe ngumpulno bahan-bahan lan liya-liyane).
Bermula dari komentar cak Peyek “Sepertinya kita perlu bergerak untuk segera menyelamatkan segala bentuk budaya Gresik, paling tidak, kita mengumpulkannya dalam bentuk artikel yang rapi, dan kita publish dalam bentuk digital library, ada ide?,”.
“Kenapa tidak yek..mungkin kita bisa mulai dari sekarang dengan mengumpulkan data-data tentang budaya gresik dari berbagai sumber (hard ‘n soft) kemudian coba bekerjasama dengan budayawan yang ada di Gresik serta beberapa narasumber yang mengetahui tentang budaya Gresik (mis. K.H. Mufti Sahli mengetahui cukup banyak tentang cerita/sejarah Gresik yang secara langsung atau ga langsung akan berhubungan dengan cikal bakal budaya Gresik atau aku dulu pernah melihat buku Gresik jaman dahulu dengan judul GRISEE -kalo ga salah- karya mas Dukut cuma sayangnya waktu itu aku ga sempat beli karena lumayan mahal)
gimana???
Nek aku setuju BeGeTe sebagai wong ngGresik biar kotaku gak diiling-iling nek Gresik iku puanas “ooh yang ada Semen Gresik ya?,” Ayo arek-arek ngGresik liyane piye??



